Jumat, 21 Agustus 2015

Kampung Pulo, Ulama, dan Kisah yang Tak Terungkap

wpid-makam-wali-kosim.jpgRusuh yang terjadi saat penggusuran paksa warga Kampung Pulo, kini hanya menyisakan kegetiran. Tapi ada sebuah kisah yang belum terungkap yakni kelindan antara Kampung Pulo dan ulama. Muhammad Iqbal atau Bang Iqbal Al Asnawy, warga Kampung Pulo yang lahir dan besar di sana bercerita tentang kearifan lokal sejarah Kampung Pulo. "Di daerah Jatinegara Jakarta Timur sekitar kawasan Mester, ada kampung dimana kampung tersebut merupakan pemukiman padat penduduk, kampung tersebut masyhur dinamakan KAMPUNG PULO, sebuah kampung yang bersebrangan dengan Bukit Duri Tanjakan, tidak jauh dari kampung tersebut terdapat kali yang membatasi antara Kampung Pulo dan Bukit Duri Tanjakan," tutur iqbal membuka cerita. Pria yang kini menjadi seorang Ustadz melanjutkan, Kampung Pulo sudah ada sejak dulu masa kolonial Hindia Belanda. Dari kampung tersebut  banyak lahir guru guru agama yang mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat Jakarta. Diantaranya lahirlah Ibu dari seorang Ulama Besar Betawi yaitu AlHabib Ali AlHabsyi Kwitang yang bernama Nyai Salmah. Beberapa Habaib terkemuka pun pernah mengajar di sana salah satunya Al-alamah Alhabib Salim Bin Jindan, KH Abdullah Syafi'i dan lain lainnya. Di kampung tersebut hidup pula keturunan Habaib dari kalangan Al Aidrus yang ditokohkan, salah satunya adalah Al Imam Al Ariefbillah Al Habib Husein bin Muchsin Al Aidrus. Ia wafat dan dimakamkan di Kampung Pulo yang kemudian membuat nama kampung tersebut lebih dikena dengan Keramat Kampung Pulo "Kewalian Al Habib Husein bin Muchsin Al Aidrus diakui oleh para Ulama besar Betawi,hingga Kubahnya di Kramat Kampung Pulo banyak orang yang menziarahinya, banyak dari keturunan Habib Husein bin Muchsin yang menjadi Juru da'wah di antaranya AlHabib Sholeh bin Husein Al Aidrus, Al Habib Muhammad bin Husein Al Aidrus dan salah seorang Mubaligh yang cukup dikenal oleh anak muda yaitu AlHabib Ibrohim bin Hamid Al Aidid atau Habib Iye Metal dan ada pula yang sering dimintai doanya karena diakui Mustajabud Du'a yaitu Syarifah Maimunah AlJufri atau yang lebih dikenal dengan Wan Munah,banyak anak cucu Habib Husein lainnya yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu," ungkap iqbal  Iqbal menambahkan, di kampung tersebut, dulu KH Achmad Muchtar ( mertua KH Abdulloh Syafii ) mengajar taklim. KH Achmad Muchtar bin Murtaha adalah seorang guru agama dan semua anaknya menjadi guru agama,diantaranya KH Syatiri Ahmad dan Ustadzah HJ Saidah Achmad. Dari kampung tersebut juga masyhur para guru agama lainnya dan di segani di kalangan para ulama Jakarta pada saat itu. Satu di antaranya Guru Agama  Mualim Qosim bin Thohir yang di kemudian hari orang menyebutnya dengan Wali Qosim. Kehidupan Mualim Qosim hanya mengajar ilmu agama. Ia  wafat tahun 1940an dan dikebumikan tidak Jauh dari rumahnya, dekat pinggir kali. Sebutan Wali terhadap Mualim Qosim sendiri diawali pada tahun 1970an tatkala ada orang dari Jawa Timur mencari Mualim Qasim, dan menurut pengakuan orang tersebut Mualim Qasim yang mengajarinya mengaji waktu dia pergi Haji di Mekkah,dan masih menurut orang tersebut di saat ingin pulang ke Tanah Air, Mualim Qasim pesan agar mampir ke rumahnya dan diberi alamat langsung oleh Mualim Qasim di daerah Kampung Pulo.Keluarga Mualim Qasim Kaget mendengar hal tersebut dan setelah di beritahukan bahwa Mualim Qasim wafat sudah lama, orang tersebut terheran heran dan minta izin untuk Ziarah ke makam Mualim Qasim. Sejak saat itu Mualim Qasim lebih dikenal dengan sebutan Wali Qasim dan dibuatkan Kubbah untuk kuburannya "Kampung Pulo juga di kenal dengan kawasan banjir, pernah satu kali saya bertanya kepada yang tinggal tidak jauh dari kali, Apa tidak khawatir ada binatang buas di saat Banjir,sedangkan kalau ada banjir jarang yang mengungsi kalau Banjirnya tidak menenggelamkan Rumah ? Mereka menjawab "Ah kite mah aman aman aje ....... blom tuh kite ketemu ame binatang yang nakutin. Kan dijagain ame Wali Qosim ame juga Bib Husin Kramat. Alhamdulillah rasanya aman." Kini Kampung Pulo tergusur dengan cara yang tak elok oleh seorang gubernur bernama Ahok. Sahabat Baik, Cibitung

Sumber : Kabar Umat http://ift.tt/1NrCF4q

Tidak ada komentar:

Posting Komentar