
Apa pandangan masyarakat umum bila bertemu seorang waria di jalan? Lumrah bila timbul perasaan risih dan ingin menghindar. Tetapi bagaimanapun juga mereka adalah manusia yang butuh dakwah dengan hikmah dan pelajaran yang baik. Tugas mendakwahkan mereka dijalankan dengan baik oleh Cepy Pramana. Beliau mengasuh Majelis Taklim Nur Rahmah yang beranggotakan kelompok Transgender. Awalnya pengajian dilangsungkan di Ulujami, kemudian pindah ke Duren Sawit. Ada pesan-pesan mendalam dari Cepy Pramana untuk kita dalam memperlakukan kaum transgender.
KabarUmat sangat beruntung berkesempatan melakukan wawancara dengan bapak tiga anak ini. Sila simak wawancara berikut!
Bagaimana ceritanya Anda diminta mengisi pengajian kelompok transgender? Awalnya saya diminta oleh salah seorang kawan akhwat muslimah untuk mengisi pengajian salah satu majelis taklim (saat itu nama MT nya Nur Rahmah) di salah satu wilayah di Ulujami Pesanggrahan Jakarta Selatan (sekarang jadi jalan Tol) pada hari Minggu di awal bulan Maret 2005 atau bulan Muharram di tanggalan Hijriyah. Kawan saya ini tidak memberikan info terkait jenis kelamin, karena saya berfikiran yang namanya Majelis Taklim itu biasanya di dominasi oleh ibu-ibu. Karena itu saya langsung mengiyakan untuk mengisi pengajian majelis taklim tersebut. Dan ternyata setelah bertemu di lokasi, ternyata mereka semua kelompok transeksual Saya diberi alamat dan kontak Ketua Majelis Taklimnya, namanya mba Winda (yang belakangan, saat ketemu di lokasi pengajian ini, ternyata seorang laki-laki dengan nama asli Wawan Setiawan) Ibarat sudah kepalang tanggung, dan saya juga sudah di lokasi tempat pengajian (saat itu ada sekitar 25 orang anggota). Maka mau tidak mau, saya pun maju terus pantang mundur, bahkan mba Winda atau mas Wawan ini, saat bertemu saya langsung cipika-cipiki yang diikuti hamper semua anggota majelis taklim Nur Rahmah. Bisa kebayangkan….
Hingga kini apakah anggota majelis taklim Nur Rahmah itu tetap, atau berganti-ganti? Setahun kemudian, selepas dari Ulujami, para pemuda lemah gemulai ini pindah ke wilayah Duren Sawit, Jakarta Timur (sebelum akhirnya tahun 2010 pindah ke Rengas Dengklok, Karawang, Jawa Barat karena terkena BKT/Banjir Kanal Timur sampai sekarang) Ternyata selepas dari mengisi pengajian pertama, ada pengajian-pengajian lanjutan. Terkadang seminggu dua kali, sekali per dua minggu, bahkan dua kali dalam sebulan. Dari yang hanya 25 orang anggota, selepas pindah ke wilayah Duren Sawit, komunitas transgender ini bertambah terus anggotanya. Saat mereka pindah ke wilayah Duren Sawit, jumlah anggota mereka bertambah hingga 102 orang. Mereka memiliki tanah di wilayah sini, hingga membentuk seperti sebuah komplek transgender. Saya pun masih tetap diminta oleh mas Wawan Setiawan (Ketua MT) untuk mengisi materi-materi pengajian untuk Majelis Taklim Nur Rahmah. Saya sendiri tidak bisa membayangkan, kok ada komunitas ini yang begitu kompak, saling menjaga, dan lainnya. Pikiran saya, untuk memperbaiki mereka semua akan sangat sulit. Karena itu, saya pegang dan komunikasi yang intensif dengan Ketua, Sekretaris, Bendahara, Anggota: mas Wawan Setiawan/Winda, Nova Setiawan Amril/Novi, Toto Tasmara/Tika, Bambang Asmuni/Belinda dan Andre Mulyansyah/Andini. Mereka inilah yang dengan intensif terus berkomunikasi, berdiskusi, dialog secara intensif dengan saya. Ternyata memang benar, dari mereka inilah, anggota-anggota komunitas transgender lainnya, terus berbenah dan berbenah, karena panutan mereka di MT Nur Rahmah, mas Wawan dan lainnya sedikit demi sedikit terus mengalami perubahan pribadi dan keilmuan.
Apakah mereka menyadari bahwa Islam melarang laki-laki berpenampilan seperti wanita? Hampir semua anggota MT ini menyadari, namun mereka tidak tahu harus mengapa dan bagaimana
Dalam pengajian, Anda pernah menyinggung hukum Islam soal larangan laki-laki berpenampilan wanita? Selama hampir 10 tahun pengajian ini berjalan, di awal-awal tidak pernah sekalipun menyinggung hukum Islam terkait hal itu. Yang disinggung dalam pengajian hampir semuanya diawali masalah-masalah (tahapan-tahapannya): semua hal Ibadah, Pahala dari Allah SWT, Kehidupan dunia dan akhirat, Fikih kehidupan, Ma’rifah Allah, Ma’rifah Islam, Ma’rifah Rasul, Makna Syahadatain. Baru setelah pengajian berjalan lima tahun, dibuka termin tambahan materi, yaitu terkait Hukum Islam, Pernikahan, Politik Islam, Komunikasi, Kepemimpinan, dll
Apa ada keinginan dari mereka untuk berubah, maksudnya berpenampilan seperti laki-laki normal? Alhamdulillah, diawali dari mas Wawan (Wawan Setiawan, Ketua MT—red), Nova Setiawan Amril, Toto Tasmara, Bambang Asmuni dan Andre Mulyansyah. Mereka semua berubah dengan berpenampilan layaknya seorang lelaki sejati (catatan: walaupun kondisi dasar terkadang masih tetap ada, lemah gemulai), bahkan sekarang sudah hamper 50 persen mereka sudah berkeluarga dan punya anak.
Anda pernah punya pengalaman membantu seorang transgender menjadi normal? Secara khusus, belum pernah punya pengalaman membantu seorang transgender menjadi normal
Apa pesan Anda kepada masyarakat mengenai kehidupan mereka yang transgender ini? Masalah transgender atau LGBT bukanlah masalah bagi “si penderita”, melainkan masalah sosial yang melibatkan masyarakat secara keseluruhan. Artinya, untuk meminimalisasi kecenderungan berkembangnya jumlah LGBT, maka diperlukan peran aktif masyarakat secara umum. Tidak ada orang yang punya cita-cita untuk menjadi seorang transgender, transeksual, gay, biseksual ataupun lesbian. Mereka sebenarnya hanyalah “korban” masalah mental, psikologis, dan biologis. Karena, dalam realita kehidupan bermasyarakat, kita menyadari bahwa ada begitu beragam yang terjadi dan kita tidak boleh acuh dengan mereka, membiarkan mereka terjerumus ke dalam bagian yang nantinya akan menyebabkan kehidupan masyarakat lainnya terganggu.
Biodata ringkas: Nama: Cecep Y Pangeran Web: http://ift.tt/16lW2YM Twitter: @CepPangeran , @MuslimTalkRadio Penulis buku sosial keagamaan, kemasyarakatan, dan rumah tangga.
Sumber : Kabar Umat http://ift.tt/1H8vp5m
Tidak ada komentar:
Posting Komentar