
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo berpendapat bahwa penyerangan terhadap jamaah sholat Idul Fitri yang terjadi di Tolikara, Papua, bukanlah kerusuhan yang beraroma suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Tetapi sekedar masyarakat yang tersulut emosinya. Hal itu disampaikan oleh Mendagri bersama jajaran Ditjen Kesbangpol meninjau langsung tempat kerusuhan. "Kerusuhan Tolikara bukan isu SARA, melainkan lebih merupakan luapan sekelompok anggota masyarakat yang kesal dan emosional," ujarnya kepada media melalui pesan elektronik, Senin (20 Juli 2015). Mendagri mengingatkan bahwa Papua memiliki status otonomi khusus. Dengan status itu, Papua berhak mendapatkan perlakuan khusus oleh negara dalam penanganan setiap masalah. Kunci sukses pembangunan masyarakat papua adalah perlakuan istimewa yang sejalan dengan konteks sosial kultural. Karena itu Mendagri mengajak semua pihak untuk membangun kembali masjid yang terbakar dan memulihkan kondisi keamanan Papua. Akan lebih baik jika tokoh lintas agama di Tolikara bergotong royong membangun kembali mushala yang terbakar sebagai bukti toleransi masyarakat," Akan sangat bagus bila tokoh masyarakat dan lintas agama di Tolikara bergotong-royong membangun kembali bangunan/kios/tempat ibadah yang rusak/terbakar sebagai bukti toleransi masyarakat Kabupaten Tolikara adalah sangat baik dan bahkan terbaik,", "Akan lebih baik jika tokoh lintas agama di Tolikara bergotong royong membangun kembali mushala yang terbakar sebagai bukti toleransi masyarakat," pesannya.
Sumber : Kabar Umat http://ift.tt/1HMTeAW
Tidak ada komentar:
Posting Komentar